google-site-verification=ZUuwLsbaFLVw0Fsx_sKtf38cmUuwOwj4MX3hBOSLU0g
Scroll untuk baca artikel
KOMUNITAS

Dua Pondasi Agama Islam

36
×

Dua Pondasi Agama Islam

Sebarkan artikel ini

Berdzikir dan bersyukur adalah dua pondasi tegaknya bangunan agama Islam ini.  Hanya insan yang berdzikir dalam makna yang sesungguhnya yang mampu bersyukur kepada Allah Ta’ala. Apa sebab? Karena seluruh bentuk ibadah yang kita tunaikan hakikatnya adalah untuk mengingat dan mengagungkan Allah Ta’ala serta bukti bersyukur kepadaNya. Kokohnya dua pondasi ini di hati kita adalah  tanda Allah Ta’ala menghendaki kebaikan kepada kita.   

Sebagai pembuktian bahwa kita insan yang selalu mengingat  Allah Ta’ala dan bersyukur kepadaNya  adalah dengan melabuhkan  jiwa kita di jalan yang dibentangkan Allah Ta’ala untuk kita lalui.  Sejak awal mula kita dijadikan Allah Ta’ala, Allah Ta’ala telah membuatkan jalan yang disebut dengan syari’ah untuk kita tempuh, kita patuhi. Keluar dari jalan itu, maka bersiaplah menunggu kehancurkan. Karenanya, sebelum Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menata jiwa kita, Dia memerintahkan kita untuk melihat ke luar diri kita, melihat alam semesta ini.

Scroll ke bawah
Teruskan Membaca

Renungilah wahyuNya dalam surah Asy-Syams (Matahari), 91: ayat 1-10 berikut ini: Demi matahari dan cahayanya dipagi hari, dan bulan apabila mengiringi matahari terbenam, dan siang apabila telah terang benderang, dan demi malam apabila memasuki kegelapan, dan langit serta penciptaannya, dan bumi serta penghamparannya,. Dalam ayat ini,  Allah Ta’ala menyebut makhluk selain manusia. Ada matahari, bulan, dan bumi sebagai  planet yang patuh hidup, berputar di atas jalan yang telah dibuat oleh Allah Ta’ala. 0,1 mm saja planet-planet itu tergelincir dari jalannya, maka kepala kita ini akan mendidih.   Lalu lihatlah ke dalam diri kita. Lihat jiwa kita! Sudahkah ia dilabuhkan di atas jalan yang dibentangkan Allah Ta’ala?  Dan Demi jiwa manusia serta penyempurnaan   penciptaannya,  maka Allah telah menerangkan kepada manusia jalan kedurhakaan (jalan kekafiran karena tidak bertauhid) dan ketakwaan (jalan Islam),  sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu (menaati syariat Allah Ta’ala), dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (Suka berbuat dosa).

Allah Ta’ala bersumpah dengan jiwa manusia agar kita bersungguh-sungguh menatanya. Allah Ta’ala telah memberikan kemulian dzaat, yaitu  jasad yang sebaik-baik bentuk kepada manusia, namun dengan jasad yang sebaik-baik rupa itu manusia dapat lebih hina disbanding hewan manakala manusia tidak memiliki kemuliaan iktisabi ,yaitu kemuliaan yang diperoleh dari buah berusaha (Iktisabi), berjuang menuju Allah  Ta’ala. Lalu, disuruh oleh Allah Ta’ala agar kita melihat ke masa lalu. Ada manusia yang telah dihidup sebelum kita, namun mereka dihancurkan Allah Ta’ala akibat keluar dari jalan hidup yang Allah gariskan. Kaum Tsamud adalah contoh kaum yang disebut dalam ayat ini sebagai kaum yang melampau batas sehingga mereka hancur karena diazab. Sejarah telah menuturkan kepada kita tentang kesudahan nasib manusia yang keluar dari jalan yang ditentukan Allah Ta’ala. Umat Nabi Luth lenyap dari muka bumi akibat perilaku seksual yang menyimpang. Tahun 79 M, gunung Vesuvius di Pompei, Itali, meletus sehingga meluluhlantakan masyarakat Pompei yang dikenal sebagai kaum gemar berzina.

Baca juga:   Fiqih Prioritas dalam Bermuhammadiyah

Disaat kita berjuang mengarungi gelombang kehidupan ini, maka terasa oleh kita betapa kecilnya kita di hadapan Allah Ta’ala, dan betapa mahalnya nikmat Allah Ta’ala. Karenanya, labuhkan jiwa di atas jalan yang dibentangkan Allah Ta’ala. Jangan pernah sekalipun keluar dari jalan itu. Kemana dilabuhkan jiwa itu? Maka, Allah Ta’ala menunjukkan jalan itu. Jalan itu adalah kembali kepada jalan bertauhid. Kecondongan  bertauhid adalah cetak biru dari penciptaan manusia. Tak ada seorang pun manusia di muka bumi yang dapat menolak jalan bertauhid itu, kecuali mereka yang hatinya tertutup dan ditutupi oleh syahwat (Baca surah Ar-Rum, 30:30).

Insan yang berdzikir dan bersyukur itu sesungguhnya adalah insan yang bertauhid,   Insan yang bertauhid adalah insan yang memenuhi janjinya dengan Allah Ta’ala yang diawali dengan bersyahadat,  harmonis hubungannya dengan sesama manusia, dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Sirnanya tiga perkara penting ini, maka sama artinya mengundang turunnya la’nat dari Sang Pencipta alam semesta ini (Surah Ar-Ra’d, 13:25). [] Wallaahu a’lam.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *