google-site-verification=ZUuwLsbaFLVw0Fsx_sKtf38cmUuwOwj4MX3hBOSLU0g
Scroll untuk baca artikel
KOMUNITAS

Arruju’Ila Muhammadiyah (Kembali pada Muhammadiyah)

32
×

Arruju’Ila Muhammadiyah (Kembali pada Muhammadiyah)

Sebarkan artikel ini

– Sekitar tujuh tahun terakhir diberi amanah berkeliling Jawa Tengah untuk bertemu dengan para jama’ah dan kader persyarikatan. Sesekali keluar Jawa untuk melihat dan berdialog langsung tentang bagaimana dinamika Muhammadiyah pada level akar rumput hingga kelas menengah. Banyak sekali persoalan yang dapat dijumpai, yang persoalan itu jika diceritakan tentu butuh ratusan bahkan ribuan lembar untuk menuliskannya. Di antara sekian persoalan paling menarik untuk kita diskusikan adalah tentang ideologisasi. Tiga parameter sederhana untuk mengukurnya. Parameter itu diwujudkan dalam bentuk tiga pertanyaan. 1) Sudah berapa lama bergabung dalam persyarikatan Muhammadiyah? 2) Apakah sudah pernah mengikuti perkaderan Baitul Arqom? 3). Sudah pernahkah membaca pikiran-pikiran resmi Muhammadiyah?

Banyak di antara mereka yang menjawab bahwa telah lama bermuhammadiyah, ada yang mengaku sudah 20 tahun, 30 tahun bahkan ada yang sudah 50 tahun menjadi bagian dari Persyarikatan Muhammadiyah. Namun belum pernah membaca pikiran-pikiran resmi Muhammadiyah, termasuk belum pernah mengikuti perkaderan utama berupa Baitul Arqom maupun Darul Arqom. Mereka ada yang loyalitasnya tidak perlu diragukan, tetapi ada pula yang patut dipertanyakan. Bisa dibayangkan bagaimana cara mereka memahami dan menggerakkan Muhammadiyah. Padahal mereka tidak pernah mengikuti perkaderan utama, tidak pernah membaca pikiran-pikiran resmi Muhammadiyah, tidak berlatar belakang Ortom, maka bisa dipastikan akan menjalankan Muhammadiyah sebagaimana seleranya, tidak berlandaskan pada kaidah-kaidah gerakan yang benar.

Scroll ke bawah
Teruskan Membaca

 

Baca juga:   PP Muhammadiyah Tetapkan Jumlah Anggota Tanwir, PWM Sumbar Segera Gelar Pleno dan Rapim

Tidak heran jika banyak warga bahkan kader persyarikatan yang kepincut alias gumunan ketika muncul wajah baru gerakan keagamaan. Gerakan baru itu tiba-tiba dianggap sebagai magnet yang menarik, seolah terlihat lebih Islami, lebih sunnah, lebih tegas, lebih hitam putih dan seterusnya. Akhirnya bagi yang tidak tahan akan hengkang dari Muhammadiyah dan memilih rumah baru. Bagi yang pura-pura tahan akan bertahan sekuat tenaga dan diam-diam membawa paham lain ke dalam tubuh Muhammadiyah sambil sesekali melemparkan serangan yang dapat melemahkan organ gerakan. Benalu semacam ini harus segera di atasi dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Sadarkan pemahamannya tentang hakikat Muhammadiyah atau diamputasi secepatnya.

Jika ditelusuri, apa yang ada dalam kelompok keagamaan lain yang mereka kira lebih menjawab beragam persoalan agama yang sedang dicari pada dasarnya sudah ada jawabannya dalam Muhammadiyah. Sayang orang-orang ini tidak pernah menggali khazanah keilmuan yang dimiliki Muhammadiyah. Sebut saja dalam bidang fiqih kita sudah ada Himpunan Putusan Tarjih, Tanya Jawab Agama, Tuntunan Ramadhan, Tuntunan Kurban, Tuntunan Zakat, Tuntunan Haji dan Umroh, Fiqih Air, Fiqih Kebencanaan dan seterusnya. Dengan metode dan pendekatan yang jauh lebih maju, modern dan komprehensif.

Baca juga:   Minoritas Kreatif Mencerahkan Umat
Baca juga, Jaga Profesionalitas dan Akuntabilitas, Lazismu Jateng Kembali Diaudit oleh KAP

Dalam bidang usul fiqih Muhammadiyah mempunyai Manhaj Tarjih yang penjelasannya sangat sederhana dan mudah dipahami. Dalam bidang ideologi ada buku Manhaj Gerakan Muhammadiyah lengkap dengan tafsiran resmi mengenai rumusan-rumusan ideologi yang merupakan putusan organisasi. Dalam persoalan politik ada khitah Muhammadiyah dan ada pula cara pandang mengenai konsepsi negara ideal dalam konteks keindonesiaan sebagaimana rumusan Negara Pancasila Sebagai Daarul Ahdi Wassyahadah. Dalam bidang tafsir Al Qur’an sudah dirintis tafsir At Tanwir dengan kajian dan pendekatan yang sangat menarik.

Keengganan membaca literatur milik sendiri mengakibatkan sebagian warga memandang Muhammadiyah pada sisi yang tidak proporsional, gegabah dan agak dungu. Bayangkan jika ada seorang tokoh yang mengaku penggerak Muhammadiyah membid’ahkan formasi tarawih 4-4-3 yang merupakan putusan resmi tarjih dalam memahami beragam dalil yang berkenaan dengan itu. Tokoh ini ngotot bahwa yang benar mestinya adalah formasi 2-2-2-2-3, selain formasi ini tidak dapat diterima. Bukankah dalam tarjih keduanya dianggap shohih dan bisa dijalankan tanpa harus dipertentangkan. Lebih jauh tudingan itu disampaikan dengan mengatakan “Muhammadiyah tidak lagi meruju’ pada Al Qur’an dan sunnah, dalil keagamaanya tidak kuat, pemahamanya tidak mengikuti para salafus sholih.

Baca juga:   Melakukan Ketaatan atau Meninggalkan Kemaksiatan, Lebih Berat Mana?

Dalam konteks keorganisasian gagal pahamnya mereka terhadap aturan main yang ada mengakibatkan mereka memosisikan diri menjadi raja-raja lokal. Jadi kepala sekolah tidak mau diganti, jadi ketua PDM/ PCM melampaui dua periode, menjabat posisi tertentu tanpa mau digeser, menjadikan Muhammadiyah sebagai rumahnya sendiri tanpa boleh disentuh orang lain, melupakan tradisi kolektif kolegial, dan seabrek persoalan lain yang muaranya adalah rendahnya literasi pada khazanah keilmuan Muhammadiyah. Saatnya ajak mereka untuk Arruju’ ila Muhammadiyah agar kembali ke jalan yang benar, jika tidak bersedia segera masukkan dalam museum sejarah.

*Sekretaris MPKSI PWM Jawa Tengah

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *